Oleh: widoyoko magelang | 7 Oktober 2009

Yogyakarta Berhati Nyaman

Ketep pass magelang

Ketep pass magelang

Selepas meninggalkan bangku Sekolah Menengah Atas negri 2 (SMAN 2) Kota Magelang pada tahun 1989. Tiba masanya untuk menentukan sebuah tantangan baru. Disebut “tantangan” karena background keluarga yang berasal dari keluarga sederhana yang pas-pasan. Bapak lulusan Sekolah Rakyat (SR) dan pensiunan Pegawai Negeri Sipil golongan rendahan (II/c), sedangkan emak bekerja sebagai buruh pabrik rokok “Jeruk” di Magelang untuk membantu kesejahteraan keluarga.
Dilihat dari segi keuangan keluarga dan hitung-hitungan matematika (pendapatan-pengeluaran), tidaklah mungkin untuk menyekolahkan 4 (Empat) orang anak di perguruan tinggi, apalagi di luar kota (Yogyakarta). Namun berbekal keyakinan bahwa “Pangeran Mboten Nate Sare”, hal tersebut ternyata menjadi sesuatu yang “mungkin”. Dengan kegigihan sebagai Kepala Keluarga dan Ibu Rumah Tangga yang ulet, bisa menyisihkan pendapatan yang tidak seberapa untuk dialokasikan (“dipontho-pontho”) guna menyekolahkan anak-anaknya, diperlukan pengelolaan keuangan yang jitu dan mumpuni. Meskipun dengan manajemen yang sederhana dan tidak mengenal manajemen modern (perbankan), masalah keuangan sampai anak-anaknya menyelesaikan sekolah di perguruan tinggi tidak mengalami suatu hambatan, akan tetapi mengalami perjuangan untuk bisa mencukupi pendidikan 4 (Empat) orang anak dan saya yakin Alloh SWT “Ngijabahi” niat tulus seseorang untuk berkarya dan berjuang untuk cita-cita anaknya.

Ketika memtuskan untuk belajar di luar Kota Magelang, banyak sekali pemikiran yang berputar-putar di kepala. Berbekal tekad dan semangat saja tidaklah cukup, namun diperlukan suatu “Nyali Keberanian”. Nyali keberanian untuk bertindak dan Nyali keberanian untuk berani bertanggungjawab terhadap segala tindakan yang dilakukan.

Masa-masa Sekolah Menengah ( terutama masa-masa SMA) merupakan masa-masa paling indah. Dengan bergulirnya waktu, dunia perguruan tinggi perlu dilalui dan dijajaki. Meski pada awalnya, muncul ketakutan-ketakutan menghadapi dengan apa yang dinamakan dan disebut dengan “penelitian”, “ujian”, “skripsi”, “pendadaran” dan “dunia akademisi” yang lain.

“Opo aku iso” merupakan pertanyaan pertama yang ada dalam otak ketika pertama kali kaki melangkah di Terminal Tidar Magelang (waktu itu masih di Terminal Lama Mbarakan, Kaki Gunung Tidar) pada Awal Agustus 1989. “Iso Lulus Opo Ora Dadi Sarjana” adalah pertanyaan lanjutan ketika sudah sampai Terminal Umbulharjo Yogyakarta.

Sebelum kaki menginjak Yogyakarta, asa awal adalah kepingin belajar di Sekolah Kedinasan (APDN Srondol) di Semarang. Karena tidak memenuhi kualifikasi persyaratan, baik secara fisik maupun intelegensia. Harapan untuk menjadi murid Sekolah Pamong Praja aku kubur dalam-dalam. Dengan langkah gontai aku tinggalkan Srondol, Semarang dan kutatap Yogyakarta dengan banyak asa didalamnya. Dengan penuh harapan, mungkin Yogyakarta menjadi tempat terbaik dalam menempa pendidikan.

Awal Agustus 1989 merupakan langkah awal mulainya suatu proses pendidikan. Aku akui bahwa aku lemah dalam bidang ilmu pengetahuan eksakta, dan lebih memiliki ketertarikan untuk belajar pada ilmu-ilmu sosial, terutama ilmu yang mempelajari hubungan interkasi antar manusia (sosiologi/sosiatri). Hal tersebut, menjadikan kaki melangkah menuju Kawasan Timoho, untuk belajar Ilmu tentang Pembangunan Masyarakat di STPMD “APMD’ Yogyakarta.

Adapun pemikiran pragmatis mengapa STPMD “APMD’ Yogyakarta yang aku pilih dikarenakan ada beberapa pemikiran :
1. Aku memiliki cita-cita menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) seperti halnya Bapakku, meskipun Bapakku dengan penghasilan pas-pasan namun dalam menjalani kehidupan “Sakmadyo”. Untuk menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS), paling mungkin kalau aku belajar di STPMD “APMD’ Yogyakarta.
2. Aku memiliki kelemahan dalam belajar bidang ilmu pengetahuan eksakta.

Selama 1989 s/d 1995 aku tinggal di Yogyakarta. Selama itu aku merasakan sebagai “Fase Pendewasan”. Ternyata tidak mudah untuk menjadi “Laki-Laki Dewasa”. Banyak rintangan bahkan racun yang berseliweran, apabila kita tidak siap dan hati-hati dalam mengambil langkah, maka racun akan mengenai kita dan akan melumpuhkan syaraf-syaraf kehidupan kita.

Begitu banyak tempat untuk berguru mencari ilmu kehidupan di setiap jengkal tanah Yogyakarta. Segala sesuatunya “terserah kita” untuk mencicipi dan mengambil sedikit ilmu kehidupan yang sudah digelar oleh alam. Untuk menjadi dewasa dalam konteks “Biologis”, Yogyakarta merupakan suatu oase yang terbuka untuk dimasuki bagi mereka yang dahaga akan kenikmatan hidup.

Ketika norma-norma ketimuran yang diagung-agungkan (baca :”budaya Jawa”) berakulturasi dengan norma-norma “serba bebas” yang menjadi ciri khas modernitas sebagian kalangan, terutama mereke yang “berjiwa muda”, muaranya adalah Yogyakarta menjadi “Kota Abu-Abu”. Yogyakarta bisa menyerap energi yang positif maupun negatif.

Berbagai pengalaman selama hidup di Yogyakarta, memberikan nilai tambah dalam mensikapi cara pandang. Bahkan secara tidak sadar, timbul pemikiran bahwa Yogyakarta yang memiliki Slogan “Berhati Nyaman“ adalah suatu kota yang mungkin ideal untuk dihuni dan ditempati. Namun pemikiran itu bisa timbul karena aku belum pernah tinggal di kota-kota lain sebagai komparasi (perbandingan), selain tinggal di Kota Kelahiran, Magelang dan Yogyakarta, kota tempat menuntut ilmu.

Beradasarkan data-data empiris selama ikut menghuni lorong-lorong Kota Yogyakarta dan masukan dari “konco-konco” dari Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa. Sebagian besar memiliki pandangan yang sama. Meskipun perlu diakui juga bahwa konsekuensi dari “asyiknya” Kota Yogyakarta sebagai sebuah hunian yang ideal, berdampak pada “keterlenaan dan keterpurukan”.

Bagi mereka yang berasal dari luar Pulau Jawa, banyak yang, enggan untuk pulang meskipun studinya sudah rampung. Ada yang enggan pulang karena betah tinggal di Yogyakarta sehingga lupa untuk menyelesaikan studi. Ada juga yang betah di Yogyakarta kerena terlena oleh “layanan hedonis” yang tersebar dimana-mana, sehingga Alloh SWT mencolek Yogyakarta dengan gempa 6,8 Skala Richter.

Nikmatnya Yogyakarta sebagai tempat untuk hunian dan usaha, menjadikan orang-orang berbondong-bondong mendatangi Yogyakarta tanpa dibekali kemampuan pengetahuan dan ketrampilan yang memadai. Tanpa tahu akan bekerja apa di Yogyakarta. Tanpa ada relasi untuk menjamin mereka hidup, sehingga banyak timbul kriminalisasi. Tanpa ada niat, sehingga banyak gelandangan dan pengemis di Yogyakarta. Tanpa ada semangat, sehingga banyak pemuja nafsu syawat berkeliaran di Yogyakarta. Tanpa ada yang mendorong, sehingga banyak pengangguran sebagai “Joko Klanthung”.

Hal tersebut di atas menjadikan Yogyakarta sebagai sebuah “Kota yang Multikultural“. Berbagai etalase dipajang disetiap jengkal tanah Yogyakarta. Terserah kita mau mematut-matut diri dan memejengkan diri di setiap tanahnya. Yogyakarta, sebuah kota yang penuh kenangan, ketika aku tinggalkan untuk belajar kehidupan di kota lain pada tahun 1995. Dan tiga tahun kemudian, 1998, aku masuki kembali kota kenangan ini dengan sejumput asa yang telah aku raih sebagai seorang yang telah berstatus Pegawai Negri Sipil (PNS) untuk belajar dan mencicipi sari ilmu kemasyarakatan (Sosiatri) di Kampus Biru (UGM) dan kemudian aku tinggalkan kota tua ini pada tahun 2000 untuk belajar lebih banyak lagi mengenai kesejatian hidup. Dan pada tahun 2008, Alloh SWT “Ngijabahi” untuk mengambil thesis “Perencanaan Wilayah” di Gunungkidul Yogyakarta.
Sejatine “ Alloh SWT Mboten Nate Sare “

Oleh: widoyoko magelang | 7 Oktober 2009

Yogyakarta Berhati Nyaman

prambanan yogyakarta

prambanan yogyakarta

Selepas meninggalkan bangku Sekolah Menengah Atas negri 2 (SMAN 2) Kota Magelang pada tahun 1989. Tiba masanya untuk menentukan sebuah tantangan baru. Disebut “tantangan” karena background keluarga yang berasal dari keluarga sederhana yang pas-pasan. Bapak lulusan Sekolah Rakyat (SR) dan pensiunan Pegawai Negeri Sipil golongan rendahan (II/c), sedangkan emak bekerja sebagai buruh pabrik rokok “Jeruk” di Magelang untuk membantu kesejahteraan keluarga.
Dilihat dari segi keuangan keluarga dan hitung-hitungan matematika (pendapatan-pengeluaran), tidaklah mungkin untuk menyekolahkan 4 (Empat) orang anak di perguruan tinggi, apalagi di luar kota (Yogyakarta). Namun berbekal keyakinan bahwa “Pangeran Mboten Nate Sare”, hal tersebut ternyata menjadi sesuatu yang “mungkin”. Dengan kegigihan sebagai Kepala Keluarga dan Ibu Rumah Tangga yang ulet, bisa menyisihkan pendapatan yang tidak seberapa untuk dialokasikan (“dipontho-pontho”) guna menyekolahkan anak-anaknya, diperlukan pengelolaan keuangan yang jitu dan mumpuni. Meskipun dengan manajemen yang sederhana dan tidak mengenal manajemen modern (perbankan), masalah keuangan sampai anak-anaknya menyelesaikan sekolah di perguruan tinggi tidak mengalami suatu hambatan, akan tetapi mengalami perjuangan untuk bisa mencukupi pendidikan 4 (Empat) orang anak dan saya yakin Alloh SWT “Ngijabahi” niat tulus seseorang untuk berkarya dan berjuang untuk cita-cita anaknya.

Ketika memtuskan untuk belajar di luar Kota Magelang, banyak sekali pemikiran yang berputar-putar di kepala. Berbekal tekad dan semangat saja tidaklah cukup, namun diperlukan suatu “Nyali Keberanian”. Nyali keberanian untuk bertindak dan Nyali keberanian untuk berani bertanggungjawab terhadap segala tindakan yang dilakukan.

Masa-masa Sekolah Menengah ( terutama masa-masa SMA) merupakan masa-masa paling indah. Dengan bergulirnya waktu, dunia perguruan tinggi perlu dilalui dan dijajaki. Meski pada awalnya, muncul ketakutan-ketakutan menghadapi dengan apa yang dinamakan dan disebut dengan “penelitian”, “ujian”, “skripsi”, “pendadaran” dan “dunia akademisi” yang lain.

“Opo aku iso” merupakan pertanyaan pertama yang ada dalam otak ketika pertama kali kaki melangkah di Terminal Tidar Magelang (waktu itu masih di Terminal Lama Mbarakan, Kaki Gunung Tidar) pada Awal Agustus 1989. “Iso Lulus Opo Ora Dadi Sarjana” adalah pertanyaan lanjutan ketika sudah sampai Terminal Umbulharjo Yogyakarta.

Sebelum kaki menginjak Yogyakarta, asa awal adalah kepingin belajar di Sekolah Kedinasan (APDN Srondol) di Semarang. Karena tidak memenuhi kualifikasi persyaratan, baik secara fisik maupun intelegensia. Harapan untuk menjadi murid Sekolah Pamong Praja aku kubur dalam-dalam. Dengan langkah gontai aku tinggalkan Srondol, Semarang dan kutatap Yogyakarta dengan banyak asa didalamnya. Dengan penuh harapan, mungkin Yogyakarta menjadi tempat terbaik dalam menempa pendidikan.

Awal Agustus 1989 merupakan langkah awal mulainya suatu proses pendidikan. Aku akui bahwa aku lemah dalam bidang ilmu pengetahuan eksakta, dan lebih memiliki ketertarikan untuk belajar pada ilmu-ilmu sosial, terutama ilmu yang mempelajari hubungan interkasi antar manusia (sosiologi/sosiatri). Hal tersebut, menjadikan kaki melangkah menuju Kawasan Timoho, untuk belajar Ilmu tentang Pembangunan Masyarakat di STPMD “APMD’ Yogyakarta.

Adapun pemikiran pragmatis mengapa STPMD “APMD’ Yogyakarta yang aku pilih dikarenakan ada beberapa pemikiran :
1. Aku memiliki cita-cita menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) seperti halnya Bapakku, meskipun Bapakku dengan penghasilan pas-pasan namun dalam menjalani kehidupan “Sakmadyo”. Untuk menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS), paling mungkin kalau aku belajar di STPMD “APMD’ Yogyakarta.
2. Aku memiliki kelemahan dalam belajar bidang ilmu pengetahuan eksakta.

Selama 1989 s/d 1995 aku tinggal di Yogyakarta. Selama itu aku merasakan sebagai “Fase Pendewasan”. Ternyata tidak mudah untuk menjadi “Laki-Laki Dewasa”. Banyak rintangan bahkan racun yang berseliweran, apabila kita tidak siap dan hati-hati dalam mengambil langkah, maka racun akan mengenai kita dan akan melumpuhkan syaraf-syaraf kehidupan kita.

Begitu banyak tempat untuk berguru mencari ilmu kehidupan di setiap jengkal tanah Yogyakarta. Segala sesuatunya “terserah kita” untuk mencicipi dan mengambil sedikit ilmu kehidupan yang sudah digelar oleh alam. Untuk menjadi dewasa dalam konteks “Biologis”, Yogyakarta merupakan suatu oase yang terbuka untuk dimasuki bagi mereka yang dahaga akan kenikmatan hidup.

Ketika norma-norma ketimuran yang diagung-agungkan (baca :”budaya Jawa”) berakulturasi dengan norma-norma “serba bebas” yang menjadi ciri khas modernitas sebagian kalangan, terutama mereke yang “berjiwa muda”, muaranya adalah Yogyakarta menjadi “Kota Abu-Abu”. Yogyakarta bisa menyerap energi yang positif maupun negatif.

Berbagai pengalaman selama hidup di Yogyakarta, memberikan nilai tambah dalam mensikapi cara pandang. Bahkan secara tidak sadar, timbul pemikiran bahwa Yogyakarta yang memiliki Slogan “Berhati Nyaman“ adalah suatu kota yang mungkin ideal untuk dihuni dan ditempati. Namun pemikiran itu bisa timbul karena aku belum pernah tinggal di kota-kota lain sebagai komparasi (perbandingan), selain tinggal di Kota Kelahiran, Magelang dan Yogyakarta, kota tempat menuntut ilmu.

Beradasarkan data-data empiris selama ikut menghuni lorong-lorong Kota Yogyakarta dan masukan dari “konco-konco” dari Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa. Sebagian besar memiliki pandangan yang sama. Meskipun perlu diakui juga bahwa konsekuensi dari “asyiknya” Kota Yogyakarta sebagai sebuah hunian yang ideal, berdampak pada “keterlenaan dan keterpurukan”.

Bagi mereka yang berasal dari luar Pulau Jawa, banyak yang, enggan untuk pulang meskipun studinya sudah rampung. Ada yang enggan pulang karena betah tinggal di Yogyakarta sehingga lupa untuk menyelesaikan studi. Ada juga yang betah di Yogyakarta kerena terlena oleh “layanan hedonis” yang tersebar dimana-mana, sehingga Alloh SWT mencolek Yogyakarta dengan gempa 6,8 Skala Richter.

Nikmatnya Yogyakarta sebagai tempat untuk hunian dan usaha, menjadikan orang-orang berbondong-bondong mendatangi Yogyakarta tanpa dibekali kemampuan pengetahuan dan ketrampilan yang memadai. Tanpa tahu akan bekerja apa di Yogyakarta. Tanpa ada relasi untuk menjamin mereka hidup, sehingga banyak timbul kriminalisasi. Tanpa ada niat, sehingga banyak gelandangan dan pengemis di Yogyakarta. Tanpa ada semangat, sehingga banyak pemuja nafsu syawat berkeliaran di Yogyakarta. Tanpa ada yang mendorong, sehingga banyak pengangguran sebagai “Joko Klanthung”.

Hal tersebut di atas menjadikan Yogyakarta sebagai sebuah “Kota yang Multikultural“. Berbagai etalase dipajang disetiap jengkal tanah Yogyakarta. Terserah kita mau mematut-matut diri dan memejengkan diri di setiap tanahnya. Yogyakarta, sebuah kota yang penuh kenangan, ketika aku tinggalkan untuk belajar kehidupan di kota lain pada tahun 1995. Dan tiga tahun kemudian, 1998, aku masuki kembali kota kenangan ini dengan sejumput asa yang telah aku raih sebagai seorang yang telah berstatus Pegawai Negri Sipil (PNS) untuk belajar dan mencicipi sari ilmu kemasyarakatan (Sosiatri) di Kampus Biru (UGM) dan kemudian aku tinggalkan kota tua ini pada tahun 2000 untuk belajar lebih banyak lagi mengenai kesejatian hidup. Dan pada tahun 2008, Alloh SWT “Ngijabahi” untuk mengambil thesis “Perencanaan Wilayah” di Gunungkidul Yogyakarta.
Sejatine “ Alloh SWT Mboten Nate Sare “

Oleh: widoyoko magelang | 7 Oktober 2009

Dituntut Sejarah Untuk Bisa Nulis

itb bandung

itb bandung

Merenung di Bulan Ramadhan 1430 H “Apa yang Bisa Aku Perbuat untuk Agama yang Aku Anut, Bangsa dimana Aku Menjadi Bagian Didalamnya dan Negara yang Aku Menjadi Warga Negara. Berbagai Pemikiran Muncul Ketika Aku Rebahan Disamping Istriku. Beragam Dialog dengan Istri, Baik Hal yang Remeh Temeh, berlanjut Masalah Keuangan Keluarga, Cerita Tetangga, Obrolan Seputar Ramadhan dan Idul Fitri 1430 H, Halal Bi Halal Kantor, hingga Membahas Masalah Keagamaan. Dalam Lelap Tidurku, Pikiranku Masih Berputar-Putar mengenai “Apa yang Bisa Aku Lakukan”, Hingga Tak Terasa Pagi Menjelang.
Dalam Bening Pagi, Sambil Minum Kopi Hangat yang Disajikan Istriku, Aku Baca Surat Kabar Mingguan “Minggu Pagi”, Sebuah Surat Kabar Terbitan Setiap Minggu yang Sudah Menjadi Bagian Bacaan Wajib Dalam Hidupku. Motonya yang “Enteng dan Berisi” Memang Benar-Benar Mudah Dicerna dan Isinya Masalah-Masalah yang Cukup Berat Namun Dikemas dengan Tulisan yang Sederhana.

Siang Mengantar Istriku untuk Beli “Tanda Empati” Buat Keponakan yang Akan Melangsungkan Pernikahan 4 Syawal 1430 H, Berupa Celana dan Baju di Pusat Pertokoan Kota Magelang. Pulangnya Jalan-Jalan di Pecinan Kota Magelang dan Mampir di Toko Buku. Beli Sebuah Buku, yang Menjadi Inspirasi untuk Segera Mungkin Menulis.

Malamnya Kelabakan karena Harddisk Laptop Udah Penuh, tinggal 155 MB, Sangat Takut Tidak Bisa Mengabadikan Momen Paling Bersejarah Hari Pernikahan Keponakan.
Masih Ditambah SD Card dalam Kamera Digital yang Sudah Penuh, CD Installer Kodak yang Entah Ngumpet Kemana dan Dicari Kemana-Kemana Nggak Ketemu. Timbul Ide Pikiran untuk Transfer File Laptop Dititipkan ke Hardisk Komputer Kantor, Namun Butuh Lama untuk Transfer dan Ekstra Tenaga Pikiran karena Besok pagi Sudah Kemas-Kemas Persiapan ke Bandongan, Magelang dilanjutkan Jam Tujuh Pagi Berangkat Menuju Purworejo, karena Jam Sebelas Dilaksanakan Ijab Kabul.

Ambil Jalan Pintas Harus Beli SD Card Kamera Digital 2 GB. Jam Delapan Malam Ider-Ider Kota Magelang ke Toko-Toko Elektronik. Banyak Toko yang Masih Tutup karena Lebaran. Namun, Alhamdulillah, ada Satu Toko di Jalan Tentara Pelajar, Kota Magelang Masih Buka dan Jual SD Card. Maha Besar Alloh SWT, Satu Masalah Sudah Terpecahkan. Jam Sembilan Malam Aku Pelototin Layar Laptop dan Aku Kuatkan Semangat Untuk Bisa Menulis. Ternyata Menulis itu Tidak Mudah, Perlu Kesabaran dan Banyak Tekan “Backspace” untuk Satu Paragraf. …………………. Ach, Ternyata Sudah Jam 00.45 WIB, Tak Terasa Udah Hampir Empat Jam di Depan Layar Laptop. Perlu Energi Ekstra, Untuk Bisa Menulis dan Aku Yakin Inilah Awal dari Sebuah Semangat untuk Memberikan “Sesuatu” untuk Agama dan Bangsaku.
…………………. Tak Tik Tak Tik Tak Tik, Nulis Ditemani Winamp

Oleh: widoyoko magelang | 7 Oktober 2009

Segeralah Ambil Tindakan

ketep pass magelang

ketep pass magelang

Ketika dihadapkan pada suatu problematika, ada dua pilihan yang diambil yaitu menyelesaikan masalah atau menumpuk dan membiarkan masalah itu menjadi bola liar. Berdasarkan realitas yang ada, kita cenderung mengambil sikap yang nomor dua. Padahal kita tahu bahwa menumpuk suatu permasalahan, akan menambah masalah itu sendiri, dimana masalah yang lama belum selesai, sudah ditambah masalah baru, yang belum tentu akan mudah terpecahkan.

Kebiasaan turun temurun tersebut, merupakan bentuk keacuhan kita pada keadaan sekitar lingkungan kita. Ambil contoh, masalah sampah dilingkungan kita. Dengan sadar kita tahu bahwa membuang sampah sembarangan merupakan suatu tindakan yang tidak bijaksana, dikarenakan sampah akan berdampak pada polusi lingkungan. Namun demikian kadangkala kita acuh dan cuek saja membuang sepuntung rokok sembarangan, membuang plastik pembungkus permen seenak “wudele dhewe”, dan masih seabrek contoh yang lain. Kebiasaan seperti itu apabila dibiarkan akan berakibat pada budaya fatalisme. Budaya yang lahir karena sikap ”semau gue”. Coba dikaji, apabila dalam suatu lingkungan RT/RW ada 5 orang saja yang memiliki budaya membuang sampah sembarangan. Dikalkulasikan saja berapa kali orang tersebut membuang sampah setiap hari, dikalikan jumlah orang tiap RT/RW, kemudian dihitung ada berapa RT/RW dalam suatu Kota/kabupaten. Apakah tidak pernah terpikirkan berapa uang yang harus dikeluarkan untuk membersihkan sampah diakibatkan oleh perilaku buruk warga masyarakatnya.

Untuk itulah perlunya kita mengubah perilaku masyarakat yang negatif, untuk dinetralisir ke arah tindakan yang lebih positif. Masalah persampahan merupakan contoh kecil dari sekian ribu permasalahan yang timbul akibat keliru dalam mengambil sikap. Perlunya pendidikan secara perlahan dan berkesinambungan untuk mengubah perilaku masyarakat yang menyimpang menjadi perilaku yang beretika dan penuh tanggung jawab. Transformasi sikap memang tidak mudah dilakukan, segampang orang membalik tangan, namun apabila transformasi ilmu, sikap dan tindakan sudah menjadi budaya, maka hal tersebut akan mudah dilakukan. Tinggal bagaimana kita mensikapi, lebih memilih ”keindahan” atau lebih menuruti hawa nafsu untuk tetap hidup dalam ”kekumuhan”.
Segeralah ambil tindakan sebelum terlambat………………..
Pada dasarnya setiap orang ingin menjadi manusia yang baik………
Tinggal kesadaran kita untuk mengambil sikap, baik terhadap diri sendiri maupun kepedulian kita dalam berinteraksi dengan lingkungan.

Oleh: widoyoko magelang | 7 Oktober 2009

Tautan Cinta

garuda magelang

garuda magelang

“ Awal-awal pertemuan itu, kini……menjadi sebuah pertautan cinta yang kami untai menjadi jalinan kasih abadi serta kami jaga hingga akhir waktu dan waktunya dalam anugerah yang telah Alloh percayakan kepada kami “

Oleh: widoyoko magelang | 7 Oktober 2009

Do’a Cinta Sang Pengantin

itb bandung

itb bandung

Ya Alloh,
andai Kau berkenan,
limpahkanlah kepada kami cinta yang Kau jadikan pengikat rindu Rosululloh dan Khadijah Al-Qubra,
yang kau jadikan mata air kasih sayang Imam Ali dan Fatimah Az-Zahra, yang Kau jadikan penghias keluarga Nabi-Mu yang suci.
Ya Alloh,
andai semua itu tak layak bagi kami, maka cukupkanlah permohonan kami dengan ridho-Mu.
Jadikanlah kami sebagai suami istri yang saling mencintai dikala dekat, saling menjaga kehormatan dikala jauh, saling menghibur dikala duka, saling mengingatkan dikala bahagia, saling mendo’akan dalam kebaikan dan ketaqwaan, saling menyempurnakan dalam peribadatan.
Ya Alloh,
sempurnakanlah kebahagiaan kami dengan menjadikan perkawinan ini sebagai ibadah kepada-Mu dan bukti pengikatan dan cinta kami kepada sunnah keluarga Rosul-Mu

Oleh: widoyoko magelang | 7 Oktober 2009

Bumi : Mozaik Kehidupan

boscha lembang bandung

boscha lembang bandung

Tuntutan mengisi kehidupan menjadi sesuatu hal yang wajib dikerjakan oleh setiap insani yang sudah diberi tanggung jawab oleh alam. Alam kehidupan digelar dimuka bumi ini untuk diaduk-aduk oleh manusia guna dicecap sari kehidupannya dan dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk kesejahteraan hidup. Ada manusia yang mengambil sari pati kehidupan secukupnya saja untuk menjaga eksistensinya, namun ada dan relatif banyak manusia yang merampok sari pati kehidupan untuk menuruti kepentingan syahwat.

Ketika sumberdaya alam dimuka bumi ini digerus terus menerus tanpa adanya keseimbangan untuk menjaga kelangsungan kehidupan didalamnya. Hal tersebut merupakan pertanda lonceng kematian bagi keberlanjutan kehidupan makluk di bumi ini. Tanpa ada pencegahan dan pemeliharaan terhadap sumberdaya alam yang dimiliki, bumi akan menjadi ”hopeless land”.

Mari, jaga bumi kita !!!

Oleh: widoyoko magelang | 7 Oktober 2009

Aku Mencintai Kehidupan

itb bandung

itb bandung

Cobalah luangkan waktu sehabis menghadap Penguasa Alam di waktu subuh dengan berjalan-jalan di lingkungan sekitar kita. Lepaslah alas kaki, biarkanlah kaki telanjang menginjak bumi. Ajaklah orang yang kita sayangi, untuk menghirup udara pagi, mendengarkan kicauan burung apabila alam disekitar masih berdiri dengan kokoh tumbuh-tumbuhan tempat dimana berbagai burung-burung memelihara eksistensinya. Rasakan kesejukan embun membasahi kaki telanjang kita, rasakan pijatan bumi memijit syaraf-syaraf telapak kaki. Tarik nafas dalam-dalam dan rasakan aliran udara segar mengisi lorong-lorong pernafasan kita, biarkan oksigen yang masih murni menari-nari dalam paru-paru kita. Pandanglah alam yang begitu bersahaja memberikan kepada kita kesejukan jiwa, tanpa ada pamrih, semua makluk diberi kesegaran, tanpa ada perbedaan, tanpa ada pilih kasih, semua mendapat porsi yang sama.

Gerakkan tubuh agar kehangatan menjalar diseluruh pori-pori sendi kehidupan kita. Angkat bahu, gerakkan kaki, berjalanlah pelan-pelan, lambaikan tangan dan tataplah hijau daun dan rerumputan. Sentuhlah embun diatas dedaunan, kemudian nikmati dingin air embun yang memberi kehidupan bagi makluk yang singgah mencicipinya. Lenturkan tangan mengikuti arah kaki melangkah, seraplah oksigen alam sebanyak mungkin dalam tubuh kita.

Berpikirlah jernih dalam menghadapi kerasnya kehidupan, ikutilah kehendak alam dan jangan menentang kehendak alam. Hidup terasa sangat indah apabila kita menjalaninya sesuai dengan ”hukum alam (sunatulloh)”. Jangan perkosa alam dengan nafsu, karena ketika alam sudah marah, tidak ada satu maklukpun yang mampu menghadapinya.
Lestarikan alam untuk kehidupan sekarang dan generasi sesudah kita. Aku sangat mencintai kehidupan. Aku sangat merindukan indahnya kehidupan.

Oleh: widoyoko magelang | 7 Oktober 2009

Manusia Pinggiran

boscha lembang bandung

boscha lembang bandung

30 September 2009, tangisan bersaut-sautan di tanah Minang. Rumah-rumah kokoh yang dibangun dengan dana jutaan, luluh lantak rata dengan tanah. Bukit-bukit yang perkasa, lumer menerjang apa saja yang bisa diterjang. Jiwa-jiwa tercerabut dari raga menuju keharibaan Sang Pencipta. Tua-muda, laki-perempuan, menceracau tak karuan ketika gedebum langit-langit rumah pada runtuh menubruk bumi. Harta benda yang dipendam bertahun-tahun, hilang musnah dalam sekejab. Penguasapun tak dapat berbuat apa-apa menghadapi kemurkaan alam. Pemuda gagahpun seketika menjadi banci yang meraung-raung menangis, entah menangisi apa. Wanita cantikpun seketika menjadi nenek jompo yang tidak tahu mau lari kemana menghadapi keganasan alam. Anak-anak masih asyik bermain ketika bencana alam itu memenggal keceriaan mereka. Benar, alam murka tanpa pernah memandang kepada siapa ia mengharu biru kehidupan.

Para penguasa dengan lagak wibawa dan mulut berbusa-busa menerangkan berbagai metode menghadapi murka alam, padahal mereka sendiri takut setengah mati apabila mereka sendiri yang tertimpa musibah karena apa yang mereka sampaikan pada khalayak tidak lebih dari “bualan sampah”. Mereka sendiri sebenarnya “loyo”, tak tahu mau berbuat apa dan bingung mau berbuat apa. Dasar pengecut, sontoloyo, maunya ingin didengar omongannya dan dituruti semua keinginannya ………………….. Bertobatlah Para Penguasa, mumpung murka alam belum menjemputmu !!!!.

Para pengusaha berlagak alim dengan mendermakan hartanya, padahal hatinya gelisah dan takut hartanya berkurang, dasar munafik….. Maunya namanya berkibar-kibar diatas tumpukan jasad dalam reruntuhan bangunan, moga-moga mendapat keuntungan dalam suasana duka……….. Sudah tahu Saudaranya tertimpa musibah, malah tega menari-nari dan berfoya-foya di hotel berbintang untuk mendapatkan kenikmatan hidup yang hanya sekejap.

Pegawai Berseragam, Aktifis, Tukang Becak, Kuli Bangunan, Kernet, Sopir, Pelacur, Pendeta, Pak Kyai, Romo, Para Bhiksu, Politisi, Pejabat, Pedande, Germo, Dosen, Guru, Lurah, Preman, Copet, Garong, Peragawan-Peragawati, Siswa-Mahasiswa, Petani, Nelayan, ……. sambil makan makanan lezat dan minum minuman menyegarkan, matanya menatap tajam tayangan mengharukan dilayar gelas dan telinganya mendengarkan ceracau penyiar yang memberitakan penderitaan korban bencana. Bahan diskusi menjadi bertambah, rentang waktu diskusi juga bertambah lama, ………………… dan mereka asyik bercengkerama dengan keluarga sambil melihat jalan terbelah, gedung-gedung miring menunggu ambruk, para korban yang lemah lunglai di tenda-tenda pengungsian.

Alam murka karena ulah manusia. Harmonisasi kehidupan yang indah dirusak oleh tabiat manusia. Polah manusia sudah berakulturasi dengan tingkah binatang. Bapak menghamili anak. Ibu berzina dengan anaknya. Tua-muda pake ganja, sabu-sabu, narkotika, dan zat adiktif lainnya. Korupsi yang udah menjadi budaya. Prostitusi menjadi gaya hidup. Budaya buka baju menjadi mode. Kebohongan menjadi landasan hidup. Tipu-menipu adalah kewajiban. Hukum tidak menjadi panglima, Kasih Uang Habis Perkara (KUHP). Penegak hukum menjadi perusak hukum. Kriminalisasi merambah setiap lini kehidupan. Beranak-pinaknya pembalak liar, perusak lingkungan dan cukong-cukong perusak alam. Kolusi berkembang biak. Nepotisme dimana-mana. Pengangguran dan kejahatan bergandengan tangan. Kemiskinan dan kesenjangan menjadi proyek. Gosip menjadi tuntunan. Isu-isu miring menjadi komoditi.

Akibatnya bencana alam bertubi-tubi melanda negeri kita. Kita tidak pernah belajar dari pengalaman dan menjadi pelupa bahwa bencana alam tidak pernah mengenal dimensi (alam dan manusia merupakan satu dimensi). Ketika Gunung Agung di Bali, Gunung Krakatau di Selat Sunda, Gunung Kelud di Jawa Timur, Gunung Merapi di Perbatasan Jogja-Magelang, Gunung Galunggung di Jawa Barat meletus dan menelan banyak korban, kita tersentak dan baru mengingat Allah. Namun bulan-bulan selanjutnya kita melupakan Allah dan kita melakukan lagi hal-hal yang dimurkai Allah tanpa pernah merasa bersalah dan melupakan tragedi yang pernah terjadi.
Ketika kita asyik memanjakan kenikmatan dunia, kita disentakkan oleh tsunami di Aceh. Barulah Allah disebut-sebut nama-Nya untuk dimintai pertolongan. Namun, apa yang terjadi kemudian, Allah ditinggalkan lagi dan manusia lebih senang bergaul dengan kehidupan duniawi yang melenakan.
Peristiwa itu berulang lagi, dengan terjadinya bencana banjir di Situ Gintung, semburan lumpur Lapindo, gempa bumi di Jawa Barat, Bencana Gempa Bumi 7,6 SR di Sumatra Barat.
Masihkah kita akan meninggalkan Allah…………………………….
Tidak takutkah kita akan murka alam…………………………………
Pilihan dipundak anda sekalian………………………………………….
Allah Tidak Pernah Tidur

Oleh: widoyoko magelang | 7 Oktober 2009

Membangun Kehidupan Berlandaskan Kejujuran

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.